Friday, December 5, 2014

Cerbung Pinocchio - Part 2

`Pinocchio`
Part 2
Muhammad Aryanda.
oOo

Part ini asli monoton! Sebenarnya gue cuma mau ngejelasin hal yang gak penting di part ini. Tapi aku mau kalian tahu hal yang tidak penting itu apa(?).
Baru saja (namakamu) ingin menikmati pemandangan indah di samping rumah, telinganya kali ini mendapati sebuah suara aneh lainnya. Seperti suara knop pintu yang di putar, namun tak kunjung terbuka. Tiba-tiba saja udara sejuk di luar sana menyapa permukaan lehernya hingga membuat bulu kuduknya meremang.
(Namakamu) berbalik dan menemukan knop pintu dapurnya terputar berkali-kali.
Maling!
Tidak! Tidak mungkin, mungkin saja itu Iqbaal yang ingin masuk melalui pintu belakang.
”Siapa?” Suara (namakamu) hanya seperti gumaman sengau. (Namakamu) menyadari hal itu.
Meskipun ragu, (namakamu) memilih untuk melangkahkan kakinya daripada hanya berdiam diri dan bergulat dengan perasaan penasarannya. Siapapun yang ada di balik pintu itu, (namakamu) tidak peduli. Tetapi yang (namakamu) takuti kalau-kalau sesuatu dibalik sana membahayakan kandunganya. Tangan (namakamu) bergerak cepat meraih pisau.
Titik keringat mulai bermunculan lantaran knop pintu semakin terputar kuat, namun seseorang di balik sana tak juga bersuara. Jantung (namakamu) berdetak lebih kencang saat pintu berusaha di dobrak dengan kuat, dan membuat hiasan gantung di pintu itu terjatuh dan pecah. (Namakamu) bergerak mundur dan menjatuhkan pisaunya.
Detik itu juga Iqbaal datang dan melihat wajah cemas (namakamu) yang mengarah ke pintu. Knop pintu tak lagi terputar dan keadaan jauh lebih normal.
”kamu baik-baik aja kan?” Iqbaal datang dengan suara cemas, dia berjongkok mengambil pisau yang terjatuh lalu meletakannya di pantri.
(Namakamu) tidak menjawab. Dia menunjuk ke arah pintu lalu memejamkan matanya, pusing kini merajarela dalam kepalanya.
”Kamu duduk dulu.” Dengan hati-hati Iqbaal menuntun (namakamu) ke kursi terdekat. (Namakamu) langsung duduk dan memijat keningnya. Wajah (namakamu) yang pucat sukses membuat Iqbaal khawatir.
”Aku takut, Baal.” (Namakamu) membekap mulutnya. Dia sama sekali tidak ingin hal semacam ini terjadi.
”Kamu tenangi diri dulu, nanti setelah itu baru kamu ceritain sama aku apa yang terjadi.” Menyerahkan segelas minuman kepada (namakamu), Iqbaal mencoba mengelus bahu (namakamu) dengan sikap menenangkan.
Iqbaal berjalan ke arah jendela lalu membukanya, udara yang mencekam dalam dapur langsung tergantikan dengan udara segar dariluar. Tiba-tiba (namakamu) bergerak memutar arah duduknya, kini dia menatap Iqbaal dengan kening berkerut resah.
”Tadi jendelanya udah di buka.”
Iqbaal menghela napas pendek. ”Jendelanya terkunci, (namakamu). Usia kandungan kamu yang semakin menambah kayaknya ngebuat kamu gampang capek.” Dia mengambil teh yang masih berada di dekat kompor kemudian meminumnya sampai habis. Terlalu manis, pikirnya.
”Tapi beneran, Baal, tadi udah di buka kok.”
Bibir (namakamu) pucat begitu juga dengan wajahnya, hal ini yang membuat Iqbaal sedikit tidak percaya dengan ucapan wanitanya. Iqbaal mengambil sapu dan tongsampah untuk membersihkan pecahan di dekat pintu, lalu membuka pintu dan mengedarkan mata kesekitar. Tidak ada siapa-siapa. Dia berjalan keluar dan membuang bekas pecahan itu ke tongsampah yang jauh lebih besar.
Halaman belakang terlalu luas, dan kosong. Untungnya bersih. Halaman seluas ini membuat Iqbaal bingung harus mengisinya dengan apa. Nanti sajalah, sekarang yang terpenting adalah (namakamu). Keadaan (namakamu) semakin lama semakin parah, sebaiknya untuk sementara Iqbaal harus menjauhkan (namakamu) dari hal apapun yang bersangkutan dengan dunia Disney. Iqbaal tak ingin membuat (namakamu) berimajinasi terlalu jauh.
Iqbaal menutup pintu dapur dan melihat ke arah (namakamu) yang masih duduk sambil memandang kosong kearah gelas.
”Gak baik ngelamun terus. Kayaknya suasana sepi disini terlalu membosankan, gimana kalau sekitar jam dua nanti kita pergi ke rumah Salsha?” Ajak Iqbaal. Dia tidak akan membiarkan (namakamu) seperti ini. Wanita ini pasti kesepian, padahal mereka baru satu malam di rumah ini.
(Namakamu) menggeleng. ”Kamu gausah terlalu khawatir sama aku, Baal, aku gak apa-apa kok. Aku suka disini.” Untuk meyakinkan perkataanya, (namakamu) tersenyum lebar ke arah Iqbaal sampai sepasang matanya tertutup dan ikut tersenyum.
Eyes Smile!
”Iyayaya, bisa aja ngelesnya,” tangan Iqbaal bergerak ke puncak kepala (namakamu) untuk mengacak-acak rambut wanita itu. ”Mendingan sekarang kamu mandi, biar lebih seger, terus selesai mandi kamu temeni aku tanami bunga-bunga pesanan kamu.”
”Oke bos.” (Namakamu) nyengir lalu menghambur ke arah kamar mandi.
*
Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang cukup cerah sekaligus terik. Matahari sudah ada di atas ubun-ubun memancarkan suhu panas, yang membuat kebanyakan orang tidak ingin menghabiskan waktunya diluar rumah. Akan tetapi hal itu justru sebaliknya. Dua manusia yang berkutat dengan tanamannya itu masih terlihat menikmati aktivitas mereka di bawah panasnya mentari.
Lubang-lubang di dekat pagar itu sudah digali sampai batasnya, hanya tinggal memanami bunganya saja. Sebenarnya Iqbaal bisa saja menyuruh orang lain atau Pak Man untuk melakukan pekerjaan ini, tapi berhubung (namakamu) meminta agar dirinya sendiri yang melakukannya, mau tidak mau Iqbaal harus menerimanya.
”(Namakamu), ini udah siang banget, mending kamu masuk gih. Diluar panas.” Ujar Iqbaal mengingatkan (namakamu). Diluar memang sangat panas, dan anehnya (namakamu) masih betah menemaninya. Padahalkan setaunya semenjak (namakamu) mengandung, wanitanya itu mendadak menjadi anti sinar matahari yang menyengat.
Dua detik sampai lima detik Iqbaal membiarkan keheningan menyapa telinganya. Dia tak kunjung mendengar sahutan dari (namakamu) lantaran untuk membalas kalimatnya. Dan detik berikutnya juga, Iqbaal menoleh sekilas ke arah (namakamu) yang ternyata sedang tercenung memandang dirinya. Walaupun sekilas, Iqbaal bisa melihat jelas wajah lugu (namakamu) dibawah terik matahari memandangnya sambil menahan senyum.
”Kamu kalau ngefans sama aku bilang kali, (namakamu). Ngeliatin akunya jangan gitu banget.” Kata Iqbaal sambil mengambil bibit-bibit bunga yang berada dalam plastik besar tepat di belakangnya.
(Namakamu) mendengar ucapan Iqbaal, dan butuh waktu selama satu menit untuk mencernanya.
”Oh! Untuk tuan Dhiafakhri yang terhomat. Bisakah Anda menyingkirkan sifat ge-er Anda itu sehari saja?” Pekik (namakamu) seraya menggeleng geli kepada Iqbaal.
Iqbaal yang melihat respon (namakamu) hanya tersenyum simpul sambil berkata. ”Tidak.”
”Anda benar-benar menyebalkan.” Secepatnya (namakamu) mengecurutkan bibirnya, dan melihat respon Iqbaal yang hanya tersenyum.
Setelah berakhirnya perdebatan singkat itu, keheningan langsung mengalir di antara mereka. Meskipun sesekali Iqbaal mencoba memecahkan keheningan itu, tapi (namakamu) hanya menjawab pertanyaan Iqbaal dengan 'hm' 'ya' 'oh' 'ner' dan jawaban singkat lainnya. Dan tampaknya usaha Iqbaal untuk mengisi percakapan di antara mereka gagal. Jadi, dia putuskan untuk membisu sambil mengerjakan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai.
Berbeda dengan Iqbaal, (namakamu) tidak bermaksud untuk bersikap dingin kepada suaminya itu, hanya saja dia lebih memilih untuk memperhatikan setiap persekian gerak yang Iqbaal lakukan. Kalaupun dia menanggapi ucapan-ucapan laki-laki itu beberapa menit yang lalu, itu hanya akan menghambat pekerjaan Iqbaal.
Sebenarnya, apa yang (namakamu) lakukan disini? Seperti pemikiran Iqbaal, Bukannya dia sangat tidak suka berada di bawah terik sinar matahari. Entahlah, tiba-tiba saja hal yang semacam itu terabaikan olehnya. (Namakamu) tak tahu mengapa, semenjak dia mengandung bayi pertamanya ini, sifatnya gampang berubah-ubah.
Dan hal yang paling (namakamu) ingat adalah pasca satu bulan dia mengandung, tiba-tiba saja hasrat untuk membenci Iqbaal menguap. Selama hampir sebulan dia tidak ingin Iqbaal tidur bersama dengannya, dan apapun yang di lakukan Iqbaal pada waktu itu selalu salah di matanya. Tetapi dengan seiringnya waktu berlalu, (namakamu) mulai bisa menahan emosinya kalau melihat wajah Iqbaal.
Meski dia bisa manahan emosinya, sewaktu-waktu bisa saja hal itu kambuh, misalkan saja kalau melihat Iqbaal tersenyum, atau menampakkan gaya sok gantengnya. (Namakamu) bisa meledak dan nekat untuk berlari ke arah Iqbaal hanya untuk meninju wajahnya.
Perasaan benci melihat wajah Iqbaal itu berakhir seminggu yang lalu. (Namakamu) mulai terbiasa dengan Iqbaal, dan tepatnya pagi tadi, saat bangun tidur, entah mengapa saat melihat Iqbaal yang sedang melakukan aktivitas menanam bunga membuat perasaan bahagia dalam benak (namakamu) meluap. Saat Iqbaal melontarkan senyum kepadanya, bersikap ramah kepadanya, dan apapun yang di lakukan Iqbaal pagi ini membuat (namakamu) seperti mengalami dejavu. Dia seakan seperti melihat Iqbaal untuk pertama kalinya.
Lamunan (namakamu) harus terhenti, saat isi dalam perutnya tiba-tiba bergerak-gerak.Hal yang sama juga terjadi pada sepasang matanya yang secara reflek terbuka lebar. (Namakamu) yang terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak sadar kalau Iqbaal sudah berpindah tempat, tapi bukan itu sesuatu yang membuat isi dalam perutnya bergerak, mata dan mulutnya terbuka lebar. Bukan! Bukan itu!
Hari memang benar-benar sudah sangat panas, dan yang lebih kejamnya lagi, sedaritadi (namakamu) tidak merasakan kalau angin menyapanya. Laki-laki di ujung sana mungkin terlalu gerah dengan kaos dalam tanpa lengan dan celana selutut yang dikenaknya, dia berkali-kali menyeka keringat yang mengalir deras di pelipisnya, hal itu dia lakukan setiap lima detik sekali. Merasa kalau sudah benar-benar kepanasan, laki-laki itu dengan seenaknya melepas pakaian atasnya dan membiarkan tubuh bagian atasnya yang berkeringat terekspos dengan jelas.
Merasa kalau debaran jantungnya mulai stabil karena insiden tak sebarapa itu, (namakamu) kembali duduk dan memperhatikan Iqbaal lagi. Kali ini sepasang matanya hanya terfokus di bagian bidang badan laki-laki itu.
”Huh! Akhirnya, selesai juga.”
Kali ini hanya mulut (namakamu) saja yang terbuka lebar. Apa-apaan ini! Padahalkan dia baru saja ingin memanjakan matanya! Keparat! Walaupun kebahagian selalu hadir tapi sepertinya keberuntungan selalu menjauhinya.
”(Namakamu), ayo masuk.” Iqbaal berjalan kearah (namakamu) sambil ingin memakai lagi kaos dalamnya.
Tidak! Tidak! Demi apapun jangan di tutup! -__-" ”jangan di pake! Udah jorok!” (Namakamu) merampas kaos yang ada dalam pegengan Iqbaal, dan menghiraukan tatapan aneh yang terpancar di wajah laki-laki itu.
”Tapi kan akunya juga udah jorok.” Iqbaal menggerutu.
”Ya, kan, kalau udah jorok memangnya harus di tambah jorok. Udah ah, sekarang masuk, terus kamu mandi! Bau!” Dumel (namakamu) seraya melangkah meninggalkan Iqbaal.
Hap!
Dengan sekali gerakkan, Iqbaal menabrak pelan punggung (namakamu) lalu melingkari tangannya di perut (namakamu) yang buncit.
Iqbaal meluk gue! Gak pake baju! Kalimat itu melintas di pikirannya, yan entah mengapa malah membuat jantungnya kembali berdetak.
”Aku sayang kamu,” Ujar Iqbaal pelan di telinga (namakamu). Lama sekali dia mempertahankan posisi seperti ini, dan biasanya kalau di peluk seperti ini, (namakamu) akan meronta-ronta minta di lepas. ”Aku juga sayang sama kamunya mana (namakamu)?” Gumam Iqbaal di telinga (namakamu).
”Aku juga sayang sama kamu.” Suara (namakamu) percis seperti bisikan, tapi walaupun begitu jarak di antara mereka yang tak terlalu jauh membuat Iqbaal mampu mendengarnya.
Melepaskan pelukannya, Iqbaal menggamit pergelangan tangan (namakamu) dan berjalan menuju rumah sambil sesekali cekikian.
*
Ketika (namakamu) sedang menikmati bacaan majalan lama di dalam kamar, tiba-tiba saja Iqbaal muncul dari balik pintu hanya menggunakan handuk tanpa atasan. Hal itu lansung membuat (namakamu) tidak fokus lagi dengan bacaannya. Iqbaal tersenyum ke arah (namakamu) lalu berjalan menuju lemari baju.
Sepanjang Iqbaal mencari-cari baju yang pas untuk dirinya. Mata (namakamu) terus bergerak-gerak liar memperhatikan Iqbaal, sampai pada akhirnya Iqbaal berbalik dan mata mereka beradu pandang.
Iqbaal tersenyum samar. (Namakamu) yakin, laki-laki itu pasti ingin tertawa karena menangkap basah (namakamu) yang sedang memperhatikannya.
”(Namakamu), baju aku kok gak ada semua?” Tanya Iqbaal gelisah.
(Namakamu) yang sedang menyeruput tehnya langsung tersedak, dan itu membuat Iqbaal langsung kelimpungan untuk menghampirinya.
”Pelan-pelan, (namakamu).” Sekarang Iqbaal sudah bersimpuh di hadapannya sambil membersihkan noda di baju dan mulut (namakamu).
”Bajunya..ee, kotor. Aku nanti sore mau nyuci.” Sadar kalau ucapannya rancu, (namakamu) hanya bisa tersenyum kikuk di pandangi Iqbaal.
”Kan aku udah bilang sama kamu, untuk sementara ini biar Bi Inah yang ngurusi semua pekerjaan rumah. Kamu istirahat aja, usia kandungan kamu udah gede, (namakamu).” Jelas Iqbaal kembali mengingatkan kepada (namakamu).
Di jarak sedekat ini dengan keadaan Iqbaal yang seperti ini membuat (namakamu) hilang konsentrasi. Matanya sibuk mencuri pandang kearah badan Iqbaal yang bertelanjang. Semenit kemudian dia mengangguk.
Menghela napas, Iqbaal bangkit dan berjalan menuju lemari. Siapa tahu ada baju yang terlewatkan. Sementara (namakamu) yang masih memperhatikan Iqbaal hanya bisa terkekeh geli. Beberapa menit yang lalu saat Iqbaal sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi, (namakamu) dengan biadabnya mengambil semua pakaian Iqbaal kecuali pakaian kantor, lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci.
”(Namakamu), aku pake baju kaos kamu ya?”
Secepatnya (namakamu) menggeleng. ”Gak! Enak aja, baju aku kan kecil, nanti malah molor! Aku gamau!” Iqbaal langsung berjengit mendengar jawaban (namakamu) yang lebih seperti berteriak.
”Jadi, aku gimana?”
”Mana aku tau!” Nada sewot masih mengiringi suara (namakamu).
”Masa sih aku cuma pake celana doang?”
'Gausah pake celana sekalian juga gapapa'
”Terserah ah, aku ngantuk. Tapi awas kalau kamu peka baju aku!” (Namakamu) bangkit dan mengancam Iqbaal dengan kecilnya.

Bersambung...

Karya : @Aryaandaa (Muhammad Aryanda)
Follow juga Twitterku @_BayuPrasetya
Jangan lupa klik Share/Bagikan
Like juga FanPagenya di https://m.facebook.com/OfficialAryanda?refid=52&_ft_=qid.6089321748666344496%3Amf_story_key.-4267874796962675010&__tn__=C

No comments:

Post a Comment

Situs terkait